
Setiap pagi, saat matahari baru saja muncul, Nenek Mariam (74 tahun) sudah bersiap dengan keranjang tuanya. Dengan langkah pelan, ia menelusuri jalan setapak di desa untuk mengumpulkan kayu bakar. Keriput di wajahnya menceritakan banyak kisah, salah satunya adalah kerasnya hidup yang masih harus ia jalani demi sepiring nasi.
“Saya ambil kayu di hutan, nak. Kalau dapat banyak, bisa jual 20 ribu,” ucap nenek sambil tersenyum, meski tubuhnya terlihat lelah. Namun, tidak setiap hari ia beruntung. Ada kalanya ia hanya membawa pulang beberapa potong kayu, yang bahkan tidak cukup untuk dijual.
Saat pertama kali bertemu, Nenek Mariam tampak ramah, meski jelas terpancar rasa letih dari wajahnya. Dengan langkah berat dan bahu yang menanggung beban, ia tetap mencoba berbicara penuh semangat.
“Kadang saya gak makan, nak, biar kayu ini bisa saya jual. Buat beli beras sama sedikit garam. Kalau ada sisa, baru saya makan.” Nenek bercerita bahwa dari hasil penjualan kayu bakarnya, ia hanya mendapatkan cukup untuk membeli makanan sederhana.
Beban hidup semakin berat ketika beberapa waktu lalu, nenek pernah jatuh saat memikul kayu. Pinggangnya sering terasa nyeri, namun ia tidak pernah ke dokter. “Mana bisa saya bayar dokter? Duit buat makan saja pas-pasan, nak,” katanya sambil tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya.
Cobaan lainnya juga sering menghampiri. Kadang kayu bakar yang ia kumpulkan dicuri orang saat ia beristirahat. Pernah juga, uang hasil penjualan kayunya hilang di perjalanan pulang. Meski begitu, nenek tetap berjuang, menahan lapar dan lelah agar bisa bertahan hidup.
“Kalau gak saya, siapa lagi, nak. Hidup harus dijalani, walau sulit.” Kata-kata itu diucapkannya dengan senyum yang penuh ketegaran.
Melihat perjuangan nenek seperti ini membuat hati tergerak. Nenek Mariam tidak meminta banyak. Ia hanya ingin hidup sederhana tanpa rasa lapar. Uluran tangan kecil dari kita bisa meringankan beban berat yang ia pikul setiap hari dengan klik tombol 'Donasi Sekarang'